6 Juli 2021 - 15:32
Jerman dan Iran Tingkatkan Kerjasama Kebudayaan dan Penelitian

Jerman dan Iran Tingkatkan Kerjasama Kebudayaan dan Penelitian

Menurut Kantor Berita ABNA, Konsulat Kebudayaan Iran di Berlin Jerman mengumumkan diadakannya seminar kedua tentang Syi'ah dengan partisipasi profesor dari Iran dan Jerman yang berlangsung secara online Selasa (22/6).

Tampil sebagai pembicara dalam webinar tersebut Konsuler Kebudayaan Iran di Berlin Hamid Muhammadi dan Guru Besar Fakultas Teologi Universitas Munster Jerman Prof. Nobert Heinsteiner. 

Mohammadi dalam penyampaiannya mencatat minat Konsulat Kebudayaan Iran di Berlin dalam mengembangkan dan memperdalam hubungan ilmiah dan budaya dengan universitas-universitas Jerman, khususnya Universitas Münster, dan membangun jembatan antara universitas-universitas Iran dan Jerman.

Dia mengatakan, "Dengan catatan yang ada, kami berharap dapat melihat realisasi program dan kegiatan budaya bersama dengan partisipasi dan kerjasama University of Munster."

Konsuler kebudayaan Iran di Berlin tersebut lebih lanjut menyatakan, "Seminar kedua tentang Syi'ah dengan partisipasi pusat-pusat ilmiah Iran dan Jerman dan dengan partisipasi profesor dari kedua negara akan terus diintensifkan dalam beberapa pertemuan ke depan."

Dia menambahkan, "Konsulat Kebudayaan Iran juga akan mengadakan webinar tentang fikih Syi'ah pada akhir tahun 2021 dengan partisipasi profesor dari Iran dan Jerman yang juga masih dalam rangkaian program kerjasama dua lembaga ini, jadi kami mengundang University of Munster untuk berpartisipasi dalam menyelenggarakan webinar tersebut."

Sementara Prof. Norbert Heinsteiner dalam penyampaiannya mengawali dengan memperkenalkan secara singkat Fakultas Teologi Katolik Non-Eropa di Universitas Münster, Jerman. Ia menyatakan minatnya untuk memperluas interaksi antar-universitas dan keagamaan dengan institusi pendidikan tinggi dan universitas Iran, serta kerjasama yang lebih luas dengan Konsulat Kebudayaan Iran di Berlin.

Dia menambahkan, "Sekolah Teologi Non-Eropa Munster adalah salah satu pusat terbesar untuk studi teologi dan agama (teologi Katolik, Protestan dan Islam) dengan sekitar 3.000 mahasiswa dan 40 profesor di bidang  dunia Kristen dan teologi Kristen luar Eropa. Ini mengeksplorasi Kristen Asia, Kristen Timur Tengah, serta hubungan Muslim-Kristen."

Hintersteiner kemudian merujuk pada berbagai perjalanannya ke Iran berkata, "Selama lima belas tahun terakhir, saya melakukan perjalanan ke Iran beberapa kali sebagai peneliti dan dalam berbagai konferensi, termasuk "Institute of Iran Philosophy" di Teheran, Tarbiat Modares University dan University Ferdowsi Masyhad. Saya berpartisipasi dan memberikan sambutan dalam berbagai pertemuan di kampus-kampus tersebut."

Profesor Fakultas Teologi Munster mengacu pada Nota Kesepahaman dengan Fakultas Teologi Universitas Ferdowsi Masyhad berkata, "Institut Pertukaran Akademik Jerman; Kursus musim panas tentang Kekristenan di Asia akan diadakan pada bulan September 2020, tetapi karena penyebaran epidemi Corona, konferensi tersebut hanya diadakan secara virtual."

Lebih lanjut dia meminta kerja sama dan partisipasi penasihat budaya Iran dalam pelaksanaan webinar berkelanjutan tentang Syiah yang telah menjadi program bersama tersebut dengan berkata, "Tahun ini, kami telah merencanakan untuk mengadakan kursus dua minggu ini secara langsung di Ferdowsi University of Mashhad. 25 profesor dan mahasiswa dari Jerman diharapkan dapat berpartisipasi dalam program  tersebut."

Hintersteiner menambahkan, "Ketentuan lain dari memorandum ini adalah pembentukan perjalanan studi ke Iran bekerja sama dengan Ferdowsi University of Mashhad tentang Warisan Budaya dan Pembelajaran Antaragama dari 4 September hingga 3 Oktober 2021."

Dia menambahkan, "Dalam perjalanan ilmiah ini, 20 mahasiswa dan 13 profesor dari University of Münster dan profesor dari universitas Jerman lainnya (Bochum, Bonn, Würzburg, Munich) dijadwalkan berangkat ke Iran. Juga, direncanakan untuk melakukan perjalanan ke kota-kota Urmia, Isfahan, Shiraz dan Masyhad dan mengunjungi berbagai aspek warisan budaya Kristen di Iran."

Dia menyebutkan program studi intensif di Fakultas Teologi Universitas Ferdowsi tentang Kekristenan di Asia sebagai bagian lain dari memorandum tersebut. "Program ini akan memungkinkan mahasiswa Jerman dan Iran dari Universitas Ferdowsi untuk mendiskusikan interaksi keagamaan bersama-sama. Dan bertukar pikiran. Mengunjungi beberapa situs warisan budaya Iran juga termasuk dalam program tersebut." Ungkapnya.